Rabu, 26 November 2014

Manajemen Laba

Manajemen Laba (Earnings Management)
Scott (2000) menyatakan bahwa “earnings management is the choice by a manager of accounting policies so as to achive some specific objective”. Berdasarkan pernyataan tersebut menunjukkan bahwa manajemen laba merupakan pilihan kebijakan akuntansi oleh manajer untuk berbagai tujuan spesifik. Kebijakan akuntansi dikelompokkan ke dalam dua kategori. Pertama, pilihan kebijakan akuntansi itu sendiri, seperti straight-line versus declining-balance amortization, atau kebijakan untuk pengukuran revenue; dan kedua akrual diskresi, seperti provisi kerugian kredit, biaya jaminan, nilai persediaan, waktu dan jumlah pos luar biasa. Ada dua cara untuk melihat perilaku manajemen laba. Pertama, perilaku opportunistic manajemen untuk memaksimumkan utilitas mereka mengenai kompensasi, debt contract, dan political cost; dan kedua, manajemen laba dari perspektif efficient contracting.
Healy (1985) menyatakan bahwa ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendeteksi perilaku manajemen me-manage laba. Pertama, mengontrol jenis akrual, dimana akrual secara luas didefinisikan sebagai porsi item penerimaan dan pengeluaran (revenue and expenses) pada laporan laba-rugi yang tidak direpresentasikan oleh arus kas; dan kedua, perubahan kebijakan akuntansi. Selanjutnya, Healy menyatakan bahwa akrual diskresi digunakan sebagai proxy total akrual. Asumsi yang digunakan adalah akrual non-diskresi relatif kecil terhadap akrual diskresi, sehingga total akrual tinggi mengandung akrual diskresi tinggi. Total akrual dapat dihitung dengan dua cara. Pertama, menghitung perubahan setiap akun neraca yang merupakan subyek akrual; dan kedua, menghitung perbedaan antara net income dan cash flow.
Manajemen melakukan peningkatan laba melalui kebijakan akrual dapat dideteksi dari empat items akrual yaitu: biaya amortisasi, peningkatan net accounts receivable, peningkatan inventory, dan penurunan accounts payble and accrual liabilities. Biaya amortisasi merupakan akrual non-diskresi, diasumsikan bahwa kebijakan mengenai amortisasi adalah given. Peningkatan piutang dagang diasumsikan berasal dari penurunan penyisihan piutang (allowance for doubtful account) yang merupakan hasil dari estimasi yang kurang konservatif. Hal ini merupakan akrual diskresi, karena manajemen secara fleksibel dapat mengendalikan jumlah penyisihan piutang tersebut; atau karena kebijakan kredit dan pencatatan saldo piutang pada awal dan akhir periode. Namun, jika peningkatan piutang disebabkan oleh peningkatan volume bisnis, maka akrual tersebut merupakan akrual non-diskresi. Demikian pula peningkatan inventory yang tidak disebabkan oleh perubahan volume merupakan akrual diskresi. Penurunan utang dagang dan kewajiban akrual juga merupakan akrual diskresi, dengan asumsi bahwa penurunan ini berasal dari manajemen yang lebih optimistic menjamin klaim terhadap produknya.
Kebijakan manajemen yang didasari oleh motivasi opportunistic cenderung melakukan manipulasi laba melalui berbagai macam dimensi, seperti dimensi-dimensi earning opacity: earnings aggressiveness, loss avoidance, dan earnings smoothing (Bhattacharya et al., 2003). Earnings aggressiveness adalah output dari kebijakan aggressive accounting dan merupakan cara terbaik yang digunakan oleh manajemen dalam memanipulasi laba, terutama dengan cara meningkatkan laba secara temporer (Penman, 2003). Kothari (2001) menyatakan bahwa dampak dari perusahaan yang melakukan aggressive accounting adalah nilai buku sekarang (current book value) aktiva dan laba lebih tinggi daripada nilai yang sesungguhnya.
Beaver (2002) juga menunjukkan bahwa dalam manajemen akrual, perusahaan dapat melakukan manajemen laba melalui beberapa karakteriksik perusahaan (seperti: overstate earnings, loss avoidance, dan income smoothing). Motivasi manajemen akrual dikelompokkan ke dalam motivasi opportunistic dan signaling. Motivasi opportunistic mendorong manajemen menyajikan laporan keuangan (khususnya laporan laba) lebih tinggi daripada yang sesungguhnya (Penman, 2003). Sedangkan pada motivasi signaling, manajemen cenderung me-manage akrual yang mengarah pada persistensi laba (Sloan, 1996; Dechow dan Dichev, 2002). Hal ini dapat dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas laporan keuangan melalui angka-angka akuntansi yang mengarah pada kualitas laba.
Motivasi opportunistic mendorong perilaku manajemen untuk menyajikan laporan laba secara smooth. Manajemen melakukan smoothing laba mempunyai harapan bahwa kompensasi (reward) yang diterima dapat memuaskan dan adanya jaminan kompensasi dalam jangka panjang. Sesuai dengan literatur income smoothing, manajemen lebih banyak menggunakan metode akuntansi untuk mengurangi fluktuasi laba daripada memaksimalkan atau meminimalkan laba (Moses, 1987). Tindakan ini dilakukan untuk menjaga stabilitas laporan laba dari waktu ke waktu dengan harapan kinerja perusahaan dipandang sustainable. Motivasi opportunistic dapat dilakukan oleh manajemen melalui kebijakan aggressive accounting yang mengarah pada overstate earnings (earnings aggressiveness) dan earnings smoothing. Bhattacharya et al. (2003) menyatakan bahwa earnings aggressiveness dan earnings smoothing akan menciptakan earnings opacity.
Pada motivasi signaling, manajemen melakukan kebijakan akrual yang mengarah pada persistensi laba. Motivasi signaling mendorong manajemen menyajikan laporan laba yang dapat mencerminkan laba sesungguhnya. Beberapa literatur menyatakan bahwa signaling theory merupakan effect yang timbul dari pengumuman laporan keuangan yang ditangkap oleh para pemakai laporan keuangan (terutama investor). Signaling effect dihasilkan oleh informasi baru, dan bukan oleh issue yang terjadi (Penman, 2003). Atas dasar motivasi signaling, manajemen terdorong untuk menyajikan laporan laba yang mengarah pada persistensi laba.
Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa perilaku manajemen (khususnya manajemen laba) dimotivasi oleh motivasi opportunistic dan signaling. Pada teori keagenan, manajemen berkewajiban meningkatkan kemakmuran pemegang saham (principals); dan pada sisi lain, manajemen juga mempunyai harapan untuk meningkatkan utilitas dan insentif yang akan diterima oleh manajemen melalui kompensasi. Pada motivasi signaling, manajemen melakukan manajemen laba dalam rangka memberikan sinyal kemakmuran pemegang saham. Pada motivasi signaling ini, manajemen harus dapat menyajikan laporan yang mempunyai kualitas tinggi (persisten). Persistensi laba mengandung makna bahwa laba saat ini dapat digunakan sebagai indikator laba periode berikutnya. Berbagai konsep tersebut disajikan secara mendalam berikut. 
 
sumber  http://mujihartopanga.blogspot.com/2014/01/teori-keagenan-dan-manajemen-laba.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar